MERANCANG BETON
Tujuan
Setelah akhir pelajaran mahasiswa diharapkan dapat :
- Merancang kebutuhan bahan beton untuk mutu beton yang rendah.
- Merancang kebutuhan bahan beton untuk mutu beton yang bermutu tinggi.
Pendahuluan
Didalam persyaratan campuran beton telah ditetapkan bahwa untuk pembuatan mutu beton rendah (Bo, B1 dan K125) dapat dipakai campuran semen, pasir dan kerikil/batu pecah dalam perbandingan isi/volume = 1 : 2 : 3 atau 1 : 1 ½ : 2 1/2 , dengakan untuk mutu beton yang diatas K125 atau mutu beton yang baik dipakai campuran beton yang direncanakan dengan melalui percobaan untuk mengetahui karakteristik beton yang diinginkan.
Uraian mengenai rancangan beton ini hanya mutu beton yang rendah, sedangkan untuk mutu beton yang tinggi dapat dilihat pada pelajaran teknologi beton. Didalam pembuatan campuran beton mutu rendah disamping dengan cara diatas dapat juga menggunakan cara sekop, ember, atau kereta dorong. Rancangan dengan cara ini dapat dilihat di bawah ini :
PERHITUNGAN KEBUTUHAN BAHAN
Pertama-tama kapasitas dari sekop, ember dan kereta dorong di cari dahulu, hingga didapat data-data sebagai berikut :
1 sekop berisi 3,5 liter
1 ember berisi 7 liter
1 kereta dorong 40 kg = 32 liter
Jadi :
1 Kereta dorong = 65/3 ½ = 18,57 ∫ 19 sekop
1 ember = 1 zak semen = 32 / 3 ½ = 9,1 sekop ∫ 9 sekop
Misal :
Diketahui :
1 m3 beton memerlukan bahan :
- Semen = 300 kg = 240 liter atau 7,5 zak (@40 kg)
- Air = 0,6 x 300 = 180 liter atau 26 ember air.
- Agregat = 1920 liter atau 29 gerobak + 5 ember
Ditanya :
0,250 beton = ¼ M3 jadi kebutuhan bahan untuk 250/M3
Jadi kebutuhan bahan ¼ M3 beton adalah sebagai berikut :
Semen = ¼ x 240 liter = 60 liter ∫ 2 zak
Air = ¼ x 180 liter = 45 liter ∫ 6,5 ember
Agregat = ¼ x 1920 liter = 480 liter ∫ 7 kerete dorong + 4 ember
Atau
Semen = ¼ x 7,5 sak = 2 sak
Air = ¼ x 26 ember = 6,5 ember
Aggregat = ¼ x 29 gerobak dorong + 5 ember = 7 gerobak dorong + 4 ember
MENGADUK BETON SECARA MANUAL
Tujuan
Setelah akhir pelajaran Mahasiswa diharapkan dapat :
- Menerangkan persyaratan pengadukan
- Menyebutkan peralatan yang dipakai
- Menerangkan prosedur pengadukan secara manual
Pendahuluan
Mengaduk beton secara manual adalah mengaduk beton dengan menggunakan peralatan yang sederhana yang tenaga penggeraknya dipakai tenaga manusia. Cara pengadukan seperti ini samapai sekarang masih tetap dilakukan, karena disamping murah juga cara kerja yang sangat mudah. Akan tetapi pengadukan secara manual, hanya boleh dilakukan untuk pembuatan mutu beton kurang dari Bo dan volume yang kecil. Banyaknya volume aduk untuk sekali aduk dibatasi pula, yaitu tidak boleh melebihi ¼ M3 ini bertujuan agar pengerjaan dan kerataan aduk mudah dicapai.
PERSYARATAN PENGADUKAN
- Bahan-bahan aduk harus tercampur merata
- Lama pengadukan dibatasi sampai adukan terlihat merata dan mengental
- Pengadukan beton untuk semua mutu beton, kecuali mutu Bo harus dilakukan dengan mesin pengaduk. Mesin pengaduk untuk membuat beton kelas III harus dilengkapi dengan alat pengukur jumlah air pencampur .
- Selama pengadukan berlangsung, pengawasan pelaksanaan harus diperhatikan benar-benar, misalnya : memeriksa slump dari setiap campuran beton yang baru.
- Adukan yang tidak memenuhi syarat minimal, tidak boleh dipakai dan dipergunakan untuk pengecoran konstruksi lain yang mutu betonnya lebih rendah.
PROSES PENGERJAAN PENGADUKAN BETON SECARA MANUAL
KETENTUAN YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MENGADUK.
Mengaduk beton secara manual perlu diperhatikan kerataan pencampuran bahannya, apabila pada campuran tersebut terlihat ada perbedaan warna maka campuran tersebut belum rata/homogeny. Untuk itu pengadukan harus dilakukan kembali, kerataan pencampuran dapat diperoleh pada umumnya setelah 3 kali pengadukan. Jika tidak, maka harus ulangi samapai tercapai komogenitas campuran itu. Disamping ini perlindungan adukan dari kotoran dan cuaca merupakan salah satu usaha untuk mencegahberkurangnya mutu adukan. Perlindungan ini dapat dilakukan dengan membuat tempat aduk dari papan kayu atau lantai kerja yang diplester dan atasnya dipasang atap pelindung. Atau dari bahan yang tidak meresap air, seperti pelat besi.
PERALATAN
- Cangkul
- Sekop
- Bak kayu/dolak
- Ember
- Alat pemadat besi atau kayu
LANGKAH KERJA
- Buat/tempatkan bak pengaduk dekat timbunan bahan
- Siapkan semua peralatan yang diperlukan
- Ambil dan tuangkan bahan-bahan ketempat pengadukan sesuai dengan ketntuan perbandingan campuran
PERHATIKAN
- Dalam penuangan bahan, kerikil harus dudahulukan, kemudian diatasnya dibuangpasir dan terakhir kerikil.
- Timbunan bahan dibuat menyerupai bentuk gunung
- Aduk bahan-bahan tersebut higga tercampur merata (warna campuran bahan sama)
- Setelah adukan merata. Siram airuntuk perawatan.
PERHATIKAN
- Bersama dengan penyiraman air, aduk beton dibolak balik seperti Nampak pada gambar.
- Ini terus dilakukan sampai air tercampur seluruhnya dan adukan terlihat agak plastis.
MENENTUKAN GRADASI AGREGAT DENGAN ANALISA SARINGAN.
Tujuan akhir pelajaran Mahasiswa diharapkan dapat :
- Menentukan baik atau kurang baiknya gradasi agregat dengan menggunakan analisa ayakan.
Pendahuluan
Gradasi agregta merupakan salah satu factor yang turut menmukan mutu dari pada beton yang di buat. Didalam pelaksanaan pebuatan beton dilapangan, gradasi agrgeta sering berubah ubah, ini disebabkan belum adanya penjualan agregat berdasarkan besar ukuran butirnya.
Mengingat pentingnya gradasi agregat maka untuk mencapai gradasi agregat yang di tentukan ama setiap kali mendatangkan agregat harus dilakukan pemeriksaaan dan analisa ayakan.
PEMERIKSAAN LAPANGAN
Diketahui :
Setelah beberapa kali mendatangkan agregat, kemudian dilakukan pemeriksaaan gradasinya, ternyata hasil pemeriksaaan ini menunjukan bahwasannya gradasi agregat berubah bentuk daripada yang inginkan (gradasi agregat sebenarnya digambarkan dengan garus putus)
Ditanya :
Tindakan apa yang diambil apabila gradasi agregat tidak sesuai dengan gradasi yang diinginkan.
JAwab :
- Jika pada agregat halus terdapat agregat kasar atau sebaliknya maka harus dilakukan kembali penentuan prosentase agregat halus dan kasar, agar didapatgradasi yang diinginkan.
- Jika agregat sudah terbagi dalam berbagai fraksi maka dapat dilakukan dengan data-data sebagai berikut :
Keterangan :
Angka-angka dalam lingkaran yang tercantum dalam gambar……. Mempunyai arti sebagai berikut :
(1) = daerah tidak baik, diperlukan terlalu banyak semen dan air
(2) = daerah baik, tetapi diperlukan lebih banyak semen dan air dibandingkan dengan (3).
(3) = Daerah baik sekali
(4) = Daerah baik untuk susunan butir diskontinu
(5) = Daerah tidak baik, terlalu sulit dikerjakan.
Catatan :
Untuk mencapai suatu kekuatan beton tertentu pada suatu nilai slump tertentu, pada umumnya diperoleh penghematan semen sebanyak 25 kg/m3 beton pada daerah (3) dibandingkan dengan daerah (2).
FORMULIR GRADASI AGREGAT.
Jadi dari data diatas maka dapat diambil tindakan :
- Untuk fraksi 0 – 4 mm prosentase agregat harus dikurangi sebanyak 30%
- Untuk fraksi 4 – 16 mm prosentase agregat harus ditambah sebnayak 41 %
- Untuk fraksi 16 – 32 mm prosentase agregat haryus tetap.
FAKTOR AIR SEMEN
Tujuan
Setelah akhir pelajaran MAhasiswa diharapkan dapat :
- Menerangkan arti dari factor air semen
- Menerangkan pengaruh nilai factor air semen terhadap mutu beton.
Pendahuluan
Pengerasan beton disebabkan oleh pengerasan pasta semen yang mengikat agregta menjadi suatu kesatuan. Untuk membuat semen menajdi bahan pengikat diperlukan air banyaknya air yang dicampur ditentukan oleh berat semen yang dipergunakan. Sedangkan untuk membuat semen terhiodrasi air minimum 0,35 x berat semen. Akan tetapi air sebanyak ini akan menyebabkan beton yang dihasilkan terlihat kering dan susak dikerjakan.
Agar adukan beton mudah pengerjaanya, maka diperlukan penambahan air, agar penambahan air tidak terlalu banyak maka dilakukan pembatasan seperti terlihat pada table…………
PENGERTIAN DARI FAKTOR AIR SEMEN
Telah diuraikan pada pendahuluan bahwa banyak air tergantung dari berat semen yang dipakai, perbandingan antara berat air bebas (agregat dalam keadaan kering permukaan tetapi jenuh air) dengan berat semen disebut “Faktor Air Semen/water cement ratio) :
Jadi : FAS (factor air semen) = Kadar berat air bebas/berat semen
Contoh : FAS = kadar air bebas : berat semen
0,5 = 150 liter : 300 kg/m3
PENGARUH NILAI FAKTOR AIR SEMEN TERHADAP MUTU BETON
Berdasarkan percobaan yang dilakukan, ternyata nilai factor air semen sangat menentukan mutu dari beton. Perbedaan pemakaian F.a.s terhadap mutu beton dapat dilihat pada grafik…………………
Grafik…………adalah grafik pemakaian fas yang berbeda terhadap kekuatan beton
Perhatian :
- Pemakaian nilai factor air semen kurang dari ketentuan akan menyebabkan kurang kuatnya pengikatan antara masing-masing bahan sehingga beton mudah retak.
- Pemakaian nilai factor nilai air semen yang berlebihan akan menimbulkan segregasi dan bleeding pada beton yang berakibat pula timbulnya pori-pori pada beton sehingga menurunkan mutu beton.
BATAS PEMAKAIAN NILAI FAKTOR AIR SEMEN
Mengingat pentingnya menjaga nilai fas yang stabil maka dilakukan pembatasan
- Nilai factor air semen maksimum 0,5 dipakai untuk beton rapat air
- Nilai factor air semen antara 0,5 – 0,6 masih memungkinkan dipakai untuk beton rapat air.
- Nilai factor air semen lebih dari 0,6 dipakai untuk beton yang tidak rapat air dan konstruksi yang di buat harus dilindungi.
Karena alas an-alasan diatas ini, maka di PBI 1971 dicantumkan pemakaian nilai factor air semen maksimum (lihat table…..)
Tabel…..Jumlah semen minimum dan nilai factor air semen maksimum.
|
Kondisi letak bangunan
|
Jumlah semen minimum
per m3 beton (kg)
|
Nilai factor air semen maksimum
|
Beton didalam ruang bangunan :
- Keadaan keliling nonkorosif
- Keadaan kelling korosif disebabkan oleh kondensasi atau uap korosif.
Beton di luar bangunan :
- Tidak terlindung dari hujan dan terik matahari langsung.
- Terlindung dari hujan dan terik matahari langsung.
Beton yang masuk kedalam tanah :
- Mengalami keadaan berganti-ganti
- Mendapat pengaruh sulfat alkali dari tanah atau air tanah
Beton yang kontinu berhubungan dengan air
- Air tawar
- Air laut
|
275
325
325
275
325
375
275
375
|
0,60
0,52
0,60
0,60
0,55
0,52
0,57
0,52
|
MENGADUK BETON SECARA MASINAL
Tujuan
Setelah akhir pelajaran Mahasiswa diharapkan dapat :
- Menyebutkan dan menerangkan factor-faktor yang menentukan penempatan mesin pengaduk.
- Menerangkan cara kerja dari pengadukan secara masinal
- Menentukan waktu pengadukan.
Pendahuluan
Pengadukan beton secara masinal dilakukan dengan menggunakan mesin pengaduk (molen/mixer). Dibandingkan dengan penmgadukan manual hasil pengadukan secara masinal lebih baik, karena homogenitas adukan lebih merata, volume pengadukan lebih banyak serta nilai kekokohannya 20-50% ;lebih besar.
PENEMPATAN MESIN PENGADUK DITEMPAT PEKERJAAN
Guna mempermudah berlangsungnya proses pengadukan beton serta mengefektifkan pemakaian mesin pengaduk, maka masalah penempatan mesin pengaduk merupakan unsure utama yang menunjang tercapainya tujuan tersebut.
Faktor=-faktor yang perlu diperhatikan dalam menempatkan mesin pengaduk, yaitu :
- Bentuk dan letak bangunan yang dibuat, agar lokasi pengecoran mudah dijangkau.
- Penempatanb timbunan bahan. Mesin pengaduk harus diletakan dekat timbunan bahan agar pengambilan bahan mudah dilaksanakan. Begitu pula penempatantimbunan harus dekat dengan konstruksi yang akan di cor dengan masing-masing bahan ditempatkan terpisah dan di ataur rapi, agar tidak mengganggu kelancaran lalu lintas didalam lokasi pekerjaan.
- Letak tempat pengadukan terhadap tempat pengecoran dan kedudukan mesin penmgaduk.
Dengan mengetahui perbedaan ketingian perletakan tempat pengadukan ini akan dengan segera dapat ditentukan jenis angkut bahan yang paling baik dipakai.
- Kapasitas dan kondisi dari mesin itu sendiri
- Kelancaran lalulintas, tanpa mengganggu satu sama lain pelaksanaan pekerjaan.
Dengan mempertimbangkan factor-faktor diatas ini maka dengan mudah digambarkan penempatan mesin pengaduk didalam suatu proyek.
- Penempatan mesin pengaduk sederhana.
Karena penakaran bahan berdasarkan volume, maka diantara timbunan bahan dan tempat mesin pengaduk diberi jarak bebas, guna memasukan bahan kedalam tromol.
- Penempatan mesin pengaduk modern.
Masin ini untuk penentuan perbandingan bahannya digunakan berat, dan biasanya mesin ini dilengkapi bahan sehinga antara timbunan bahan dan mesin pengaduk saling didekatkan perletakannya.
PROSEDUR PENGADUKAN
- Peralatan :
- Mesin pengaduk
- Bak penampung adukan dari kayu/metal
- Dolak
- Sekop
- Ember.
- Langkah kerja :
- Persiapkan semua bahan dan peralatan yang diperlukan.
- Letakan mesin pengaduk pada kedudukan yang stabil dan strategis.
- Jalankan mesin sesuai dengan tenaga penggeraknya.
- Dengan menggunakan ember masukkan ± 50% air pencampur beton kedalam tromol
- Masukan pula seluruh pasir kedalam teromol
- Tambahkan seluruh semen kedalam teromol
- Tambahkan pula sedikit air tujuannya untuk mempermudah tercampurnya bahan
- Dengan menggunakan dolak, masukan seluruh kerikil kedalam teromol
- Masukan sisa air kedalam teromol
- Biarkan seluruh bahan tercampur selama ± 5-6 menit
- Kosongkan teromol dengan menuangkan seluruh adukan pada bak penampung.
- Bersihkan teromol dari sisa-sisa aduk yang masih melekat pada dinding teromol.
LAMA PENGADUKAN
Ketentuan lamanya pengadukan, dalam mengaduk secara manual kurang diperhatikan, jadi sebagai pedoman bahwa adukan telah selesai (jadi) ialah berdasarkan visual saja, yang mana bila terlihat adukan sudah mengental dan merata pencampuran bahannya. Pengamatan secarea visual ini kadang kala dilakukan dalam pengadukan secara manual akan tetapi dengan persyaratan bahwa adukan yang dikerjakan mutunya rendah. Sedangkan untuk mutu beton yang tinggi waktu pengadukan ditentukan lamanya pengadukan berdasarkan :
- Jenis/type mesin
- Kapasitas adukan
- Jenis dan gradasi agregat
- Slump yang dipakai
Akan tetapi pada umumnya waktu pengadukan harus diambil paling sedikit 1,5 menit setelah semua bahan dimasukan kedalam teromol.
Tabel. 1. Merupakan ketentuan dari waktu pengadukan minimum berdasarkan penyelidikan oleh ACI dan BR
Tabel. 1. Waktu pengadukan minimum
|
Kapasitas Mesin Pengaduk
M3
|
Waktu pengadukan Minimum (menit)
|
|
Bureau of Reclamation
|
American Concrete Institute and A.S.T.M Standard C 94-72
|
|
0,8 sampai 1
1,5 sampai 2
2,3 sampai 3
3,1 sampai 4
3,8 sampai 5
4,6 sampai 6
7,6 sampai 10
|
1
1
2
2
2
3
3
|
1
1
1
1
2
2
3
|
PENGARUH WAKTU PENGADUKAN TERHADAP MUTU BETON
- Terlalu sebentar
Pencampuran bahan kurang merata, sehingga berakibat berkurangnya pengikatan antara bahan-bahan beton.
- Terlalu lama
- Suhu beton naik
- Terjadinya keausan/pecahnya agregat akibat pergesekan yang lama
- Diperlukan pertambahan air
- Nilai slump bertambah
- Kekerasan akan berkurang.
PEMERIKSAAN BETON
Tujuan :
Setelah akhir pelajaran Mahasiswa diharapkan dapat :
- Menerangkan pengambilan contoh uji beton
- Menerangkan fungsi dari slump test, pembuatan bentda uji kuat tekan dan pemerikasaan volume hasil pengadukan
- Menerangkan bentuk dari slump beton
- Menyebutkan ketentuan yang harus diperhatikan dalam pemeriksaaan beton
- Menerangkan prosedur pemeriksaaan slump beton dan pembuatan contoh benda uji tekan beton dan penentuan volume hasil pengadukan.
Pendahuluan
Setelah beton diaduk (beton dalam keadaan segar), maka untuk mengetahui keadaan beton ini perlu dilakukan pemeriksaaan. Bentuk dari pemeriksaan ini ada 3 macam yaitu :
- Pemeriksaan terhadap konsistensi beton (kekentalan beton), p[emerikasaan ini dilakukan dengan menggunakan slump test, atau yang sering dikenal pemeriksaan slump test.
- Pemeriksaan kuat tekan, dalam pemeriksaan kuat tekan tidak dapat dilakukan di lapangan, tetapi dilakukan di laboratorium. Jadi untuk pengerjaan di lapangan hanya dalam pembuatan benda uji. Bentuk dari benda uji tekan ini ada 2 macam yaitu Kubus dan Silinder.
- Pemeriksaan volume hasil pengadukan (yield Test), pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui banyaknya volume beton yang diiinginkan itu sesuai atau tidak dengan volume yang dihasilkan setelah pengadukan, sehingga pemborosdan pemakaian bahan dapat dihindari.
PEMERIKSAAN SLUMP BETON
Pemeriksaan slump beton ini, bertujuan untuk mengetahui konsistensi (kekentalan) dari beton, dari hasil pemeriksaaan inidapat diketahui apakah beton ini cukup workability nya (tingkat kemudahan untuk dikerjan) semakin besar nilai slumpnya akan semakin mudah dikerjakan.
PROSEDUR PEMERIKSAAN
- Peralatan slump ters yang terdiri dari :
- Alat slump test, yang terdiri dari :
- Kerucut terpancung dengan diameter atas 10 cm, diameter bawah 20 cm dan tinggi 30 cm.
- Bidang atas yang tidak meresap air
- Tongkat baja ø16 mm, panjang 60 cm dengan ujung yang dibulatkan
- Mistar ukur dari baja.
- Langkah Kerja
- Masukan beton kedalm kerucut standard dari baja setiap 1/3 bagian beton dalam kerucut, dipadatkan dengan batang standard dari baja sebanyak 25 kali pemadatan.
- Setelah penuh dan rata, didiamkan dahulu selama setengah menit, baru kerucut ditarik vertical keatas perlahan-lahan.
BENTUK DARI SLUMP
Dari hasil pemeriksaan slump ternyata slump beton terjadi dalam beberapa bentuk, yaitu :
NILAI SLUMP UNTUK PEKERJAAN KONSTRUKSI
Untuk mencegah pengguanaan adukan beton yang terlalu kental atau terlalu encer, dianjurkan untuk menggunakan table dibawah ini.
Tabel…..Nilai slump untuk berbagai pekerjaan beton.
| URAIAN |
SLUMP (CM)
|
| |
Maksimum Minimum |
| Dinding, Plat pondasi dan pondasi telapak bertulang.
Pondasi telapak tidak bertulang kaison dan konstruksi dibawah tanah.
Pelat, kolom, balok, dan dinding.
Pengerasan jalan.
Pembetonan missal. |
12,5 5,0
9,0 2,5
15,0 7,5
7,5 5,0
7,5 2,5
|
Untuk maksud dan alas an-alasan tertentu, maka dengan persetujuan pada ahli, dapat dipakai nilai-nilai slump yang menyimpang dari pada yang tercantum dalam table……, asal dipenuhi hal-hal sebagai beriktu :
- Beton dapat dikerjakan dengan baik
- Tidak terjadi pemisahan agregat (segregasi) dari adukan
- Mutu beton yang disyaratkan tetap terpenuhi.
PEMBUATAN BENDA UJI KUAT TEKAN BETON
Pembuatan benda uji ini bertujuan untuk mengetahui sipat kuat tekan dari beton dan sekaligus sebagai pedoman waktu untuk pembukaan bekisting.
BENTUK DARI BENDA UJI.
Berdasarkan PBI 1971, benda uji untuk pemeriksaan kuat teka beton, dibuat dalam dua bentuk yaitu kubus dan silinder. KEdua betuk tersebut masing-masing mempunyaiperbedaa kuat tekan (lihat table……) dibawah ini :
Tabel……. Perbandingan kuat tekan beton dari berbagai benda uji < 28 hari
| Benda uji |
Perbandingan kekuatan tekan |
| Kubus 15 x 15 x 15 cm
Kubus 20 x 20 x 20 cm
Silinder ø15 x 30 cm |
1,00
0,95
0,83
|
PENGAMBILAN CONTOH BENDA UJI
Pada pekerjaan beton dengan jumlah dari masing-masing mutu beton lebih besar dari 60 cm3, untuk masing-masing mutu beton harus dibuat 1 (satu) benda uji setiap 5 m3 beton dengan minimum 1 benda uji tiap hari, kesuali pada permulaan dari pelaksanaan, dimana frekwensi pembuatan benda uji harus lebih besar agar dalam waktu sesingkat-singkatnya dapat terkumpul 20 benda uji, setiap 3 m3 beton harus dibuat 1 benda uji. Segera setelah terkumpul 20 benda uji pada umur 28 hari. Maka dari hasil pemeriksaaan kekuatan tekan benda uji terpenuhi.
Pada pekerjaan beton dengan jumlah dari masing-masing mutu beton kurang dari 60 m3 berlaku ketentuan-ketentuan berikut, untuk masing-masing mutu beton. Pembuatan benda uji dapat dilakukan sebagai berikut :
Interval jumlah pengecoran beton (m3) yang kira-kira sama diantara p[embuatan benda-benda uji ditetapkan sedemikian rupa, setelah selesai pengecoran-pengecoran beton seluruhnya, utnuk masing-masing mutu beton dapat terkumpulkan minimum 20 benda uji.
Apabila karena alas an-alasan tertenbtu pembuatan 20 benda uji diangap tidak praktis atau tidak dapat dilakukan maka jumlah benda uji yang dibuat boleh kurang 20 buah asal pembuatannya dilakukan dengan interval jumlah pengercoran yang kira-kira sama.
PROSEDUR PEMBUATAN BENDA UJI
PERALATAN
- SIlinder/kubus
Jika dibuat benda uji berbentuk kubus, maka cetakan harus paling sedikit mempunyai 2 dinding yang berhadapan terdiri dari bidang-bidang yang rata betul dari plat baja, kaca, atau alumunium (kayu tidak boleh dipakai). Cetakn disapu sebelumnya dengan vaselin, lemak atau minyak agar mudah dapat dilepas dari beton, kemudian diletakan diatas bidang alas yang rata yang tidak menyerap air.
- Vibrator atau tongkat baja 16 mm, panjang 60 cm dengn ujung dibulatkan.
- Sendok Spesi
LANGKAH KERJA
- Peralatan benda uji pertamna-tama diberi minyak agar mudah dilepas.
- Masukan beton ke dalam cetakan dalam 3 lapis yang kira-kira sdama tebalnya dan masing-masing lapisan ditusuk 25 kali dengan tongkat baja.
- Jika mengunakan vibrator, maka adukan dimasukan hingga memenuhi cetakan kemudian di getar, jarum vibrator harus dimasukan centris tanpa menyetuh dasar cetakan. Penggetaran dihentikan apabila pada permukaan beton terlihat mengkilap oleh air semen.
- Ratakan permukaan beton
- Beri tanda pada permukaan beton yaitu : hari, tanggal dari pembuatan benda uji.
- Simpan selama 24 jam, contoh uji yang baru dibuat dalam dalam udara lembab (dilindungi dari penguapan)
- Setelah 24 jam contoh uji beton dapat dibuka dari cetakan
- Dan direndam contoih uji dalam air sampai batas waktu pengujian khusus untuk contoh uji yang berbentuk silinder sebelum di uji diberi lapisan sulfur compounds setebal 1/8 – 1/16 inchi, tujuannya agar didapat permukaan beton yang rata.
WAKTU PEMERIKSAAAN CONTOH UJI BETON.
Dalam waktu singkat sudah ada gambaran tentang mutu dari beton dan dari pelaksanaan, maka dianjurkan untuk disamping membuat benda-benda uji beton untuk diperiksa pada umur 28 hari, 3 hari, dan 7 hari. Hasil pemeriksaan dengan benda-benda uji ini, dapat dijasdikan dasar untuk mempertimbangkan apakah perlu diadakan p[erubahan dalam campuran beton dan cara pelaksanaannya.
Sebagai penilaian yang menentukan bagi mutu beton tetap harus diambil berdasarkan benda-benda uji pada umur 28 hari.
Disamping untuk mengetahui sifat kuat tekan beton, juga telah dijelaskan sebelumyna yaitu dengan waktu pemeriksaan yang singkat dapat dipergunakan. Untuk menilai apakah beton sudah cukup keras, sehingga cetakan atau acuan dapat dibongkar atau beban-beban dapat dikerjakan padanya.
Perhitungan kuat tekan beton dalam berbagai umur mempunyai perbedaan :
|
UMUR BETON (Hari)
|
3
|
7
|
14
|
21
|
28
|
98
|
365
|
| Semen Portland biasa |
0,40
|
0,65
|
0,88
|
0,95
|
1
|
1,20
|
1,35
|
| Semen Portland dengan kekuatan awal tinggi |
0,55
|
0,75
|
0,90
|
0,95
|
1
|
1,15
|
1,20
|
PEMERIKSAAN VOLUME HASIL PENGADUKAN (YIELD TEST)
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui apakah volume yang dihasilkan dari pengadukan sama dengan volume beton berdasarkan perhitungan, sekaligus berfungsi untuk menghidari pemakaian bahan yang berlebih-lebihan.
PENGAMBILAN CONTOH UJI
Adukan untuk pemeriksaaan volume hasil pengadukan, diambil dari pengadukan yang permulaan. KArena untuk pengadukan selanjutnya dengan berpedoman pada pengadukan pertama volume aduk dapat diketahui.
PROSEDUR PEMERIKSAAN
PERALATAN
- Mesin pengaduk
- Bak penentu volume : Bak ini berbentuk empat persegi panjang dengan panjang selebar 1 m sedangkan tinggi dibuat 60 cm. Untuk mempermudah pembacaan, bak ini diberi ukuran pada skala tinggi.
- Vibrator
- Dolak
- Ember
LANGKAH KERJA
- Adukan beton, sesuai dengan volume yang diinginkan
- Tuang adukan beton, kedalam bak penentu volume
- Padatkan aduk beton dalam bak, dengan vibrator hingga ketinggian aduk menjadi sama.
- Ukur/tentukan ketinggian aduk beton pada 5 tempat
Catatan :
- Volume aduk beton sebenarnya dapat diketahui yaitu : panjang x lebar x tinggi
- Jika dari hasil pemeriksaaan ini, ternaya volume aduk lebih kecil atau lebih besar dibandingkan dengan volume yang diinginkan.
Maka dapat disimpulkan bahwa pemakaian bahan terlalu boros oleh karena itu perlu adanya koreksi bahan untuk menghindari hal ini, yaitu : manmbah agregat atau menyesuaikan jumlah semen dengan volume beton sebenarnya.
Contoh :
- Data yang diperoleh :
Untuk mencapai volume beton 1m3, maka : 0,95m3 beton + 0,05m3 agregat = 1m3 beton
- Koreksi :
- Menambah agregat
- Menyesuaikan jumlah semen dengan volume beton sebenarnya. Jadi jumlah semen yang harus dipakai untuk 0,95 beton adalah : 300 x 0,95 = 285 kg
PENGANGKUTAN BETON
Tujuan
Setelah akhir pelajaran Mahasiswa diharapkan dapat :
- Menyebutkan persyaratan pengakutan beton
- Menyebutkan cara pengangkutan beton.
Pendahuluan
Mengangkut beton adalah mengantarkan adukan betondari tempat pengadukan ketempat pengecoran.
PERSYARATAN PENGANGKUTAN BETON
- Pengangkutan harus berjalan lancer, sehingga tidak terjadi perbedaan waktu penyekatan yang menyolok antara beton yang sudah dicor dan yang akan dicor.
- Pengangkutan yang memerlukan jangka waktu yang panjang dianjurkan menggunakan bahan pengambat beton (retarder).
- Kondisi aduk selama pengangkutan
- Tidak terjadi segrgegasi (pemisahan agregat)
- Tidak terjadi bleeding (air yang keluar ke permukaan beton)
- Tidak terjadi kehilangan bahan
- Workability tidak berubah
- Tidak kehilangan air/bocor
CARA PENGANGKUTAN
Pengankutan beton dapat dilakukan dengan 2 macam cara yaitu :
- Secara manual : Peralatan yang dipakai antara lain , ember, dolak, talang dan lain-lain.
- Secara masinal : Peralatan yang dipakai seperti menara tuang, pompa beton dan lain-lain.
PENGECORAN BETON
Tujuan
Setelah akhir pelajaran Mahasiswa diharapkan dapat :
- Menyebutkan persyaratan pengecoran beton
- Menyebutkan persiapan yang harus dilakukan sebelum pelaksanaan pengecoran beton
- Menerangkan cara mengecor beton pada konstruksi.
Pendahuluan
Mengecor beton adalah menuang aduk beton kedalam begisting, hingga terisi penuh. Karena pengecoran merupakn salah satu factor yang m,enentukan mutu beton, maka pelaksanaan pengecoran tidak boleh sembarang saja, melainkan harus memenuhi persyaratan dan langkah pengecoran yang baik agar didapat hasil pengecoran yang baik pula.
PERSYARATAN PENGECORAN
- Adukan beton harus dicor sedekat-dekatnya ketempat tujuan akhir, agar pemisahan bahan dapat dihindari.
- Pengecoran hendaknya dilakukan secepat mungkin setelah pengadukan
- Pengecoran hendaknya terus dilakukan hingga bekisting penuh oleh adukan beton, tetapi jika tidak mungkin, penghentian pengecoran harus pada tempat yang telah di tentukan.
PERSIAPAN SEBELUM PENGECORAN BETON
Persiapan ini dilakukan terhadap terhadap keadaan tempat pengecoran yang antara lain :
- Kedudukan dan kekokohan begisting harus dalam keadaan baik.
- Kedudukan dari jaringan tulangan telah dipasang benar.
- Antara jaringan tulangan dan begisting telah diberi jarak beban untuk selimut beton.
- JAringan tulangan dalam keadaan bebas dari minyak, kotoran dan lain-lain.
- Kotoran-kotoran pada begisting telah dihilangkan, jadi begisting dalam keadaan bersih.
- Begisting telah disiram dengan air hingga jenuh.
Tujuannya :
- Agar kotoran-kotoran pada begisting dapat dihilangkan
- Mempersempit celah-celah begisting akibat pemuaian beguisting
- Mencegah terhisapnya air beton oleh bekisting.
PENGECORAN BETON PADA BERBAGAI KONSTRUKSI.
Karena setiap konstruksi mempunyai bentuk yang berbeda , maka cara kerja pengecorannya mempunyai perbedaan pula.
PENGECORAN KOLOM
Konstruksi kolom pada umumnya dibuat tinggi, maka untuk mencegah terjadinya pemisahan bahan, dipergunakanlah pipa penghantar beton (lihat pada lembaran perlatan pekerjaan beton). Cara kerja pengecoran dengan menggunakan pipa ini adalah sebagai berikut :
Cara kerja pengerjaan dengan menggunakan pipa ini adalah sebagai berikut :
Pertama-tama pipa dimasukan kedalam cetakan kemudian kedudukan pipa diatur hingga stabil, antara ujung pipa dengan akhir pengecoran diberi jarak bebas 10-20 cm, lalu aduk beton dimasukan kedalam cetakan melalui pipa tersebut, setelah aduk beton diperkiraan telah mencapai dasar pengecoran, pipa secara perlahan-lahan diangkat. Proses kerja seperti ini berlanjut terus hingga cetakan terisi penuh oleh adukan beton.
PENGECORAN DINDING
Cara kerja pengecoran konstruksi dinding, hampir sama dengan pengecoran konstruksi kolom. Karena dinding bentuknya lebih panjang, maka pengecoran dinding ahrus selpis demi selapis. Pengecoran ini dapat dilakukan dari hanan kekiri atau sebaliknya.
PENGECORAN LANTAI / PELAT.
Pengecoran lantai/pelat dimulai dari salah satu ujung tepinya hingga selesai atau sampai pada siar pelaksanaan yang telah disiapkan dan dalam pengecoran hendaknya dilakukan sejajar dengan tulangan pokok.
Bagian yang telah dicor hendaklnya diratakan permukaanya setelah pemadatan beton, dari kelebihan adukan tanp[a menununggu bagian lain selesai dicor.
PEMADATAN BETON
Tujuan :
Setelah Akhir pelajaran Mahasiswa diharapkan dapat :
- Menyebutkan persyaratan pemadatan beton
- Menyebutkan dan menerangkan cara pemadatan beton
Pendahuluan
Pemadatan beton adalah bertujuan untuk memperkecil rongga-rongga udara didalam beton dimana dengan cara ini masing-msaing bahan akan saling mengisi celah-celah yang ada. Keuntungan dari pem,adatan beton adalah meningkatkan sifat dari beton seperti : Kekuatan tekan, keawetan, kerapat air dan lain-lain.
PERSYARATAN PEMADATAN BETON
- Pada pembuatan mutu beton kelas III pemadatan dapat dikerjakan dengan menumbuk, merojok, atau mengetuk, tetapi dianjurkan menggunakan alat penggetar.
- Pada pembuatan mutu beton kelas III, pemadatan beton siwajibkan menggunakan alat penggetar.
- Pemadatan harus dilakukan secepatnya mungkin setelah pengecoran beton.
CARA PEMADATAN BETON
Pemadatan beton dapat dilakukan dalam beberapa macam, yang antara lain :
- Penumbukan
- Pengecoran dan pengetukan
- Penggetaran
Dari kerja cara pemadatan ini pemadatan dengan penggetaran lebih baik dibandingkan yang lainnya, karena nilai FAS dapat dipakai seminimal mungkin dan hasil pemadatannya sangat baik.
PENUMBUKAN BETON
Penumbukan ini menggunakan alat penumbuk (lihat pada lembaran peralatan pekerjaan beton). Penumbukan ini dilakukan lapis demi lapis yang masing-masing lapisan mempunyai ketebalan 10-15 cm. Cara ini terus dilakukan hingga beton mencapai ketinggian yang diinginkan.
PENGROJOKAN DAN PENGETUKAN
Pengerjaan pemadatan ini ialah :
Dengan merojok aduk beton dan bersamaam dengan perojokan itu, bagian bawah cetakan diketuk-ketuk dengan palu. Hasil pemdatan dengan cara ini lebih baik dari pada pemadatan hanya dengan di rojok-rojok adukan saja.
PENGGETARAN
Pemadatan dengan cara penggetaran dilakukan dengan menggunakan alat penggetar (vibrator) yang dapat bergetar dalam jumlah tertentu tiap menitnya. Pengetaran ini mempunyai 3 macam cara yaitu :
- Penggetran di permukaan
- Penggetran melalui perantaraan bekisting
- Penggetran dalam adukan
Dari tiga cara penggetaran diatas yang paling baik adalah penggetaran cara ke 3 dan sering dilakukan dilapangan. OLeh karena itu dalam uraian ini hanya membahas tentang penggetaran dalam adukan.
PENGGETARAN DALAM ADUKAN
Penggetaran ini dimaksutkan dengan memasukan jarum vibrator kedalam adukan.
KETENTUAN PENGGETARAN
- Aduk beton tidak boleh terlalu encer, untuk mencegah terjadinya segregasi dan bleeding.
- Penggetaran harus segera setelah adukan di cor (dituangi) kedalam bekisting dan dihentikan apabila pada permukaan beton tidak mengeluarkan gelembung-gelembung udara serta air semen telah menggenang dipermukaan beton.
- Vibrator hanya boleh dipakai sebagai pemadat, bukan sebagai menyebarkan adukan.
- Untuk mencegah kerusakan pada cetakan, maka vibrator dianjurkan tidak mengenai bekisting
- Untuk mencapai hasil pemadatan yang baik, maka pemadatan harus dimulai dari bagian bawah aduk yang kemudian perlahan-lahan di tarik keatas. Karena bila terlalu cepat akan meninggalkan rongga dibawahnya.
- Posisi vibrator dianjurkan vertical atau maksimal miring 45o, agar segregasi pada aduk beton dapat dihindari.
- Untuk mencapai ikatan yang baik antara adukan yang telah dipadatkan atau yang sedang dipadatkan maka ketika memadat ujung vibrator diusahakan masuk kedalam beton yang telah dipadat maximal 1/3 tinggi lapisan jangan sampai seluruhnya masuk lapisan, karena dapat mengganggu proses hidrasi yang sedang berlangsung.
- Pada pemadatan ditempat yang miring dapat digunakan tabung penolong sebagai perantara.
LAMA PENGGETARAN
Lama penggetaran aduk beton maksimum adalah 30 detik, tetapi dapat pula ditentukan berdasarkan beadaan aduk, yaitu apabila adukan mulai Nampak mengkilap (air semen mulai memisahkan diri dari aggregate) penggetarn dihentikan. Penarikan jarum vibrator tidak boleh terlalu cepat agar rongga bekas jarum dapat diisi penuh lagi dengan adukan.
PERATAAN PERMUKAAN BETON
Tujuan
Setelah akhir pelajaran Mahasiswa diharapkan dapat :
- Menyebutkan persyaratan perataan permukaan beton
- Menerangkan cara meratakan permukaan beton
Pendahuluan
Perataan permukaan beton yang dimaksutkan adalah perataan bidang beton yang tidak tertutup oleh bekisting. Tujuannya adalh untuk mendapatkan permukaan beton yang baik dengan ketinggian sesuai dengan yang diinginkan. Pelaksanaan perataan ini dikerjakan ketika beton dalam keadaan basah.
PERSYARATAN PERATAAN BETON
- Perataan bidang beton harus segera apabila salah satu bagian bekisting telah diisi penuh aduk beton.
- Lubang-lubang atau penonjolan dari agrgeta harus tidak ada pada permukaan beton, jadi permukaan beton harus rata dan padat.
CARA PERATAAN PERMUKAAN BETON
Pertama-tama bidang beton diratakan dengan jidar (lihat pada lebaran peralatan per. Beton) Pemakaian jidar ini dapat langsung dikerjakan untuk bidang pengecoran yang kecil dengan meletakan jidar diatas bekisting, kemudian jidar digerakan maju mundur dengan zig zag.
Untuk pengecoran konstruksi yang luas, kerataan permukaan dan ketebalan konstruksi permukaan dan ketebalan konstruksi ditentukan oleh mistar pengukur, yang diletakan diatas papan yang diberi kaki. Bagian Bawah mistar dibuat rata dan tinggi sama dengan ketebalan konstruksi yang di cor.
Mistar ini dapat digerakan kekanan-kekiri, setelah ketebalan kosntruksi tercapai, papan penyangga mistar dapat dipindahkan tempatnya dan lubang-lubang bekas kaki papan di cor dengan beton sampai padat. Karena padat perataan pertama, masih terdapat penonjolan penonjolan dari permukaan beton maka untuk itu dilakukan peruskaman.
Dengan menggosokan ruskam dengan gerakan melingkar dan disertai permukaan, maka permukaan beton Nampak lebih rata.
Perlu diingat bahwa peruskaman jangan terlalu lama, untuk mencegah terjadinya bleeding pada beton. Permukaan beton didiamkan hingga tuidak terdapat genangan air pada permukaan beton, setelah itu dilanjutkan kembali peruskaman.
PERAWAT BETON
Tujuan
Setelah akhir pelajaran MAhasiswa diharapkan dapat :
- Menerangkan pengertian daripada perawatan beton
- Menerangkan pengaruh dari perawatan beton terhadap sifat beton
- Menyebutkan persyaratan dari perawatan beton
- Menerangkan cara merawat beton.
Pendahuluan
Akibat tercmapurnya semen dengan air dalam pembuatan aduk beton maka terjadilan proses hidarasi pada semen yang mengakibatkan mengerasnya aduk beton. Untuk mencapai pengerasan aduk beton yang sempurna maka air didalam beton harus dicegah agar jangan samapai hilang sebelum beton mengeras. Usaha pencegahan ini disebut dengan perawatan beton.
PENGARUH PERAWATAN BETON TERHADAP SIFAT BETON.
Pengaruh dari perawatan beton adalah :
- Meningkatkan keawetan beton
- Meningkatkjan kerapatan (rapat air) daripada beton
- Meningkatkan kekuatan beton
Akan tetapi apabila beton tidak mendapatkan perawatan sama sekali maka akan mengakibatkan proses hidarasi semen dengan segera terhenti karena penguapan air dalam beton tidak tertahan sehingga menyebabkan :
- Retak-retak pada permukaan beton akibatkan perbedaan temperature antara suhu pada permukaan beton dengan suhu didalam beton.
- Timbul pori pada beton
- Kekuatan dan keawetan semen akan menurun.
Perbedaan kekuatan beton antara beton yang tanpa perawatan dengan yang dilakukan perawatan setelah 3 dan 7 hari diudara dan perawatan yang terus menerus dapat dilihat pada gambar dibawah ini :
PERSYARATAN DARI PERAWATAN BETON
- Perawatan beton harus dilakukan pada awal pengerasan beton dan selambat-lambatnya 7 hari setelah pengecoran.
- Lama perawatan beton dianjurkan sampai beton dapat memikul beban sendiri (yang paling baik ialah 28 hari)
- Selama perawatan bekisting harus pula dijaga ke lembabannya atau selalu disiram dengan air.
CARA PERAWATAN BETON
Perawatan beton dapat dilakukan dalam beberapa macam cara, yang antara lain :
- Menambah kelembabab pada beton
- Mencegah hilangnya kelembaban dalam beton
- Mempercepat pengerasan
Uraian dibwah ini hanya membahas perawatan beton pada point 1 dan 2, sedangkan point 3 tidak diuraikan karena cara ini dilakukan untuk perawatan beton precast, bukan untuk pekerjaan pembuatan beton dilapangan.
Menambah kelembaban
Penambahan kelembaban pada beton, dilakukan dengan menggunakan beberapa macam bahan, yang antara lain :
- Air.
Air yang dipakai untuk menambhkan kelembaban harus air yang bersih dan tidak tercampur dengan bahan-bahan yang dapat merusak mutu beton. Air tersebut digenangkan pada permukaan beton untuk menjaga agar air tidak mengalir keluar dari permukaan beton maka disekeliling bidang beton diberi penahan air
Panggenangan air ini harus terus menerus agar air tidak sampai mongering batas waktu perawatan beton.
- Menutup bidang beton
Penutupan bidang beton ini dilakukan dengan menggunakan karung, pasir, terpal, serbuk gergaji dll. Bahan-bahan ini dihamparkan dalam keadaan basah pada permukaan beton. Sama halnya dengan point, penutup ini juga harus dijaga tetap dalam keadaan basah.
Mencegah kehilangan kelembaban
Pencegahan ini dapat dilakukan dengan menggunakan :
- Kertas tidak tembus air (water proof paper)
- Plastik dan lain-lain.
Bahan-bahan tersebut dihamparkan diatas bidang beton, antara bidang beton dan bahan penutup harus diberi jarak bebas, agar penutup tersebut tiodak mengganggu permukaan beton.
Diingat …?
Kedua cara perawatan ini hanya dilakukan untuk bidang beton yang kedudukannya horizontal. Sedangkan untuk yang keduduakn konstruksi vertical perawatan perawatan beton dilakukan dengan membasahi bekisting.
MASA PERAWATAN BETON.
Lama perawatan beton tergantung daripada :
- Type semen
- Perbandingan adukan
- Letak dan bentuk konstruksi
- Temperatur
- Dan lain-lain
Tetapi pada umumnya perawatan dari beton dilakukan :
1. Untuk kolom sederhana lama perawatan 2-3 hari
- Untuk balok dan plat lama perawatan ± 2 minggu sedangkan lama perawatan yang paling baikmadalah selama ± 28 hari (bebuatanbeton mencapai 100%).